Sebelum
mengantongi gelar sarjana, idealnya seseorang tersebut harus menempuh
pendidikan kurang lebih 16 tahun, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai
lanjut ke perguruan tinggi, ada juga yang ingin mendapat gelar lebih tinggi,
sesuai dengan bidang yang mereka ambil yang mengharuskan mereka menambah masa
pendidikan lebih lama lagi. Tak hanya berlomba-lomba untuk mendapat gelar dalam
proses tersebut, mereka juga harus menguras otak mereka bagaimana caranya agar
mendapatkan IPK (Indeks prestasi kumulatif) yang tinggi.
Belum sampai
disitu, calon sarjana dan orang tua pun harus mengeluarkan rupiahnya dalam jumlah
yang tak sedikit. Ya, apabila bagi mereka yang beruntung bisa mendapatkan
beasiswa maka ringanlah bebannya, namun tak semua orang bisa mendapatkan
beasiswa, apalagi jika yang tak beruntung itu adalah orang dengan latar
belakang kurang mampu. Mereka harus bekerja keras mengeluarkan keringat lebih
banyak dari yang lain, untuk mendapatkan biaya pendidikannya dengan tujuan mendapatkan
sebuah gelar sarjana yang diharapkan bisa merubah hidupnya.
Namun apa yang
terjadi ketika gelar yang telah disematkan dibelakang nama mereka tak dapat
mewujudkan mimpi mereka? Diharapkan bisa merubah hidup dengan bekerja di kursi
empuk yang sesuai dengan harapan mereka, namun impian merubah hidup dan
membahagiakan keluargapun tak tersampaikan. Disebabkan karena lapangan
pekerjaan yang tak memadai untuk menampung seluruh sarjana di seluruh
Indonesia. Maka tak heran jumlah sarjana pengangguran semakin membludak, ada
yang terpaksa menjadi tukang becak, bahkan tak menjadi hal yang mustahil bila
sampai terjerat kasus kriminal.
Seperti yang
dilansir dari www.pikiran-rakyat.com dimana kementrian riset, teknologi, dan
pendidikan tinggi menyatakan pada tahun 2018 kurang lebih 8,8% dari total 7
juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana. Hal ini memang sangat membuat
semua orang khawatir, semakin bertambahnya waktu hingga saat ini pasti jumlah
penggangguran pun semakin bertambah. Persaingan pun akan semakin ketat, mungkin
di tahun-tahun yang akan datang sarjana dengan gelar S1 nya pun tak dierima
bekerja lagi, walaupun hanya sebagai honorer. Seperti yang terjadi di
tahun-tahun sebelumnya, honorer dengan tingkat sarjana diploma 3 dan dibawahnya,
harus diminta untuk melanjutkan
pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Alih-alih ingin mencari penghasilan untuk mengembalikkan modal
biaya pendidikan, malah lagi-lagi mengeluarkan badget yang jumlahnya
juga tak sedikit.
Sarjana yang harus
menjadi tukang becakpun bukanlah hal yang asing didengar, bahkan kita juga
pernah menjumpainya di beberapa daerah. Segelintir sarjana yang ada pun terpaksa
harus melanjutkan hidupnya dengan bekerja sebagai tukang becak. Terkadang mereka
bercerita akan hidup mereka, dari perjalanan mereka meraih gelar hingga
pahitnya hidup setelahnya. Bagi yang tak beruntung, ternyata setelah mendapat
gelarpun, bukan akhir dari segala usahanya. Jika dikaji, memang profesi sebagai
tukang becak bukanlah suatu yang hina, karna dalam ajaran Islam mengatakan
bahwa pekerjaan paling hina adalah peminta-minta (mengemis). Namun rasa sedih
dan kesal pasti terpancar pada sarjana-sarjana diluar sana, karena susahnya
mencari pekerjaan yang layak di negeri sendiri.
Juga tak heran
ketika seseorang kalang kabut mencari pekerjaan dan tak mendapatkannya, maka
hal terakhir yang dilakukannya bisa saja mencuri, begal dan kasus kriminal
lainnya. Dalam beberapa berita, kita mendapati bahwa nama-nama yang memiliki
gelarpun tak luput dari panggilan pihak berwajib. Alasannya rata-rata
dikarenakan karena keterbatasan ekonomi.
Jelaslah bahwa
sebuah gelar sarjana memang tak dapat menjamin hidup seseorang sejahtera. Jika hanya
gelar saja yang diharapkan maka sudah jelas gelar sarjana tersebut tak dapat
membawa kita ke kehidupan yang sejahtera. Karena apabila ingin hidup sejahtera
dan sukses kita tak harus mendapatkan sarjana terlebih dahulu. Banyak para
lulusan SMA bahkan tak bersekolah dapat hidup sukses karena keterampilannya. Dalam
hal ini juga kita tak dapat memungkiri bahwa gelar sarjana juga penting.
Dengan tak terlalu terpaku pada sebuah gelar,
namun lebih kepada memikirkan bagaimana caranya agar setelah sarjana dapat
membuka peluang usaha bagi calon sarjana kedepannya. Bukan menunggu untuk
meminta pekerjaan, melainkan membuka peluang pekerjaan untuk generasi
berikutnya. Mengasah keahlian yang ada pada diri dan kepribadian masing-masing,
soal IPK yang tinggi juga tak dapat mengahantarkan seorang sarjana ke pintu
kesuksesan. Juga diharapkan untuk pemerintah agar dapat lebih mengontrol izin
untuk pendirian perguruan tinggi baru. Agar tak menambah sarjana pengangguran
karena membludaknya angka sarjana yang tak dapat di tampung oleh berbagai
perusahaan atau instansi lainnya.
(F)

No comments:
Post a Comment