Tuesday, July 2, 2019

Gelar Tak Dapat Menjamin Hidupmu





                Sebelum mengantongi gelar sarjana, idealnya seseorang tersebut harus menempuh pendidikan kurang lebih 16 tahun, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai lanjut ke perguruan tinggi, ada juga yang ingin mendapat gelar lebih tinggi, sesuai dengan bidang yang mereka ambil yang mengharuskan mereka menambah masa pendidikan lebih lama lagi. Tak hanya berlomba-lomba untuk mendapat gelar dalam proses tersebut, mereka juga harus menguras otak mereka bagaimana caranya agar mendapatkan IPK (Indeks prestasi kumulatif) yang tinggi.
            Belum sampai disitu, calon sarjana dan orang tua pun harus mengeluarkan rupiahnya dalam jumlah yang tak sedikit. Ya, apabila bagi mereka yang beruntung bisa mendapatkan beasiswa maka ringanlah bebannya, namun tak semua orang bisa mendapatkan beasiswa, apalagi jika yang tak beruntung itu adalah orang dengan latar belakang kurang mampu. Mereka harus bekerja keras mengeluarkan keringat lebih banyak dari yang lain, untuk mendapatkan biaya pendidikannya dengan tujuan mendapatkan sebuah gelar sarjana yang diharapkan bisa merubah hidupnya.
            Namun apa yang terjadi ketika gelar yang telah disematkan dibelakang nama mereka tak dapat mewujudkan mimpi mereka? Diharapkan bisa merubah hidup dengan bekerja di kursi empuk yang sesuai dengan harapan mereka, namun impian merubah hidup dan membahagiakan keluargapun tak tersampaikan. Disebabkan karena lapangan pekerjaan yang tak memadai untuk menampung seluruh sarjana di seluruh Indonesia. Maka tak heran jumlah sarjana pengangguran semakin membludak, ada yang terpaksa menjadi tukang becak, bahkan tak menjadi hal yang mustahil bila sampai terjerat kasus kriminal.
            Seperti yang dilansir dari www.pikiran-rakyat.com dimana kementrian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi menyatakan pada tahun 2018 kurang lebih 8,8% dari total 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana. Hal ini memang sangat membuat semua orang khawatir, semakin bertambahnya waktu hingga saat ini pasti jumlah penggangguran pun semakin bertambah. Persaingan pun akan semakin ketat, mungkin di tahun-tahun yang akan datang sarjana dengan gelar S1 nya pun tak dierima bekerja lagi, walaupun hanya sebagai honorer. Seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, honorer dengan tingkat sarjana diploma 3 dan dibawahnya,  harus diminta untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Alih-alih ingin mencari penghasilan untuk mengembalikkan modal biaya pendidikan, malah lagi-lagi mengeluarkan badget yang jumlahnya juga tak sedikit.
            Sarjana yang harus menjadi tukang becakpun bukanlah hal yang asing didengar, bahkan kita juga pernah menjumpainya di beberapa daerah. Segelintir sarjana yang ada pun terpaksa harus melanjutkan hidupnya dengan bekerja sebagai tukang becak. Terkadang mereka bercerita akan hidup mereka, dari perjalanan mereka meraih gelar hingga pahitnya hidup setelahnya. Bagi yang tak beruntung, ternyata setelah mendapat gelarpun, bukan akhir dari segala usahanya. Jika dikaji, memang profesi sebagai tukang becak bukanlah suatu yang hina, karna dalam ajaran Islam mengatakan bahwa pekerjaan paling hina adalah peminta-minta (mengemis). Namun rasa sedih dan kesal pasti terpancar pada sarjana-sarjana diluar sana, karena susahnya mencari pekerjaan yang layak di negeri sendiri.
            Juga tak heran ketika seseorang kalang kabut mencari pekerjaan dan tak mendapatkannya, maka hal terakhir yang dilakukannya bisa saja mencuri, begal dan kasus kriminal lainnya. Dalam beberapa berita, kita mendapati bahwa nama-nama yang memiliki gelarpun tak luput dari panggilan pihak berwajib. Alasannya rata-rata dikarenakan karena keterbatasan ekonomi.
            Jelaslah bahwa sebuah gelar sarjana memang tak dapat menjamin hidup seseorang sejahtera. Jika hanya gelar saja yang diharapkan maka sudah jelas gelar sarjana tersebut tak dapat membawa kita ke kehidupan yang sejahtera. Karena apabila ingin hidup sejahtera dan sukses kita tak harus mendapatkan sarjana terlebih dahulu. Banyak para lulusan SMA bahkan tak bersekolah dapat hidup sukses karena keterampilannya. Dalam hal ini juga kita tak dapat memungkiri bahwa gelar sarjana juga penting.
             Dengan tak terlalu terpaku pada sebuah gelar, namun lebih kepada memikirkan bagaimana caranya agar setelah sarjana dapat membuka peluang usaha bagi calon sarjana kedepannya. Bukan menunggu untuk meminta pekerjaan, melainkan membuka peluang pekerjaan untuk generasi berikutnya. Mengasah keahlian yang ada pada diri dan kepribadian masing-masing, soal IPK yang tinggi juga tak dapat mengahantarkan seorang sarjana ke pintu kesuksesan. Juga diharapkan untuk pemerintah agar dapat lebih mengontrol izin untuk pendirian perguruan tinggi baru. Agar tak menambah sarjana pengangguran karena membludaknya angka sarjana yang tak dapat di tampung oleh berbagai perusahaan atau instansi lainnya.
           
(F)
           
           


No comments:

Post a Comment

Resep Membuat Telu Kuliner Khas Aceh Tenggara Bahan Sederhana

  Telu Khas Aceh Tenggara Sumber Gambar : Seringjalan.com Aceh Tenggara dengan Ibu Kota Kutacane merupakan salah satu kabupaten yang ada...