sumber : pixabay.com
Siapa yang tak mengenal kopi? Setiap orang pasti mengenal serbuk
halus berwarna hitam legam ini, karena melalui proses sangrai dan dihaluskan
dengan cara ditumbuk. penghasil kopi
yang berkualitas dan terkenal, salah satunya adalah wilayah dataran tinggi
tanoh Gayo tepatnya di Kabupaten Bener Meriah. Salah satu kota yang bisa dikatakan kota termuda di provinsi Aceh ini pasca dimekarkan dari kabupaten Aceh Tengah saat 13 tahun yang lalu. kota ini selain memamerkan kopinya yang khas juga menyimpan beribu cerita dan
pesona yang indah, masyarakatnya yang ramah dan bersahaja, sumber daya alam yang melimpah , menjadi kebanggaan tersendiri di kabupaten bener Meriah ini.
Kota ini sering dijuluki
dengan kota diatas awan karena kota ini sangat dingin dan indah. Selain itu kota
ini adalah penghasil kopi organik terbaik di dunia, Membuat lidah penikmatnya ingin selalu merasakan kenikmatan si hitam manis ini. kebiasaan masyarakat di kota ini
yaitu menikmati kopi sebagai teman setia pengusir udara dingin untuk menyambut
fajar dan senja. Sang pencipta telah menganugerahi tanah yang subur di
kabupaten ini sehingga cocok untuk ditanami kopi dan tanaman lainnya. Begitu
juga dengan hasil tanaman berbagai jenis sayuran yang membuat setiap hari orang
hilir mudik keluar masuk Bener Meriah. Tak heran
mata pencarian utama di kota ini adalah bertani kopi. Setiap tahun
masyarakatnya menghasilkan banyak kopi, baik jenis arabika maupun robusta.
Ketika tiba di kota Bener Meriah kita langsung di sugukan dengan
pemandangan yang serba hijau di tepi jalan. Ya, saat di kota ini kita tidak
akan kesulitan mencari perkebunan kopi, karena di setiap pinggiran jalan sudah
terdapat pohon kopi yang berjajar dengan rapi. Saat musim hujan, biasanya itu
adalah tanda bahwa musim kopi akan segera tiba . Saat musim itu tiba, sejauh mata
memandang akan terlihat seperti hamparan salju yang bertebaran dia atas pohon
kopi, diikuti dengan wangi bunga kopi yang sangat khas, membuat orang yang
melintas seakan ingin berhenti untuk sekedar menikmati keindahan dan kesegaran
wangi bunga kopi.
Ketika bunga itu mulai berubah warna menjadi kuning kecoklatan dan
untuk beberapa lama maka akan menjadi buah kopi yang kecil nantinya. Setelah
beberapa bulan dari proses pembungaan kopi berlangsung, barulah musim panen
kopi pun tiba. Salah satu petani kopi yang berasal dari Desa Lewa Jadi
Kecamatan Bandar, beliau memiliki kebun kopi seluas 4 rante sebutan dalam
perhitungan luas tanah di kota ini, atau setara dengan 1600 meter persegi luas
perkebunannya. Beliau mengaku saat musim panen tiba dia bisa menghasilkan 50
kaleng kopi dalam sekali panen. Namun sayangnya yang dikatakan nomor satu
didunia tidak dapat menomor satukan harga kopi gayo di tengah masyarakat gayo,
masalahnya harga kopi “gelondongan” kata masyarkat gayo, atau kopi yang masih
utuh yang baru di petik dari pohon. pada
tahun 2017/2018 masih berkisaran antara Rp. 9.000-11.000 perbambu.
Harga ini masih dikategorikan di bawah harga standar kata beliau,
karena dalam proses perawatan kopi gayo membutuhkan modal dan tenaga yang cukup
untuk memaksimalkan hasil panen kopi. Mulai dari perawatan memupuk kopi,
memangkas kopi, membersihkan secara berkala, rasanya tidak seimbang denga harga
yang ditawarkan kepada petani kopi. Tak hanya itu masyarakat juga harus
menunggu selama 6 bulan untuk bisa memanen kopi secara maksimal.
Dalam masalah ini sebernanya
akan menimbulkan kerugian terhadap petani kopi. karena tidak ada keseimbangan
antara modal dan hasil yang di peroleh. Pemerintah harus memberikan solusi
kepada petani kopi mengapa kopi gayo masih di bawah harga standar. Sedangkan
kualitas dan peringkat kopi gayo sudah di akui dunia. Berharap dengan ketenaran
kopi gayo juga bisa meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

memang sangat nikmat kopi gayo ini, saya salah satu penggemarnya
ReplyDelete